Selasa, 12 Juli 2011

Renungan Malam: "AKU LAHIR DARI MAMA...AKU TERLUKA KARENA MAMA"



Sapaan seorang sahabat untuk para sahabat,

Aku selalu mengingatkan Anda sekalian bahwa “kesalahan apa pun yang pernah diperbuat oleh mama tak pernah menghilangkan kenyataan bahwa dari rahim mamalah setiap anak dilahirkan. Kita pantas bersyukur atas segala pengorbanan mama kepada kita, anak-anak mama.

“Aku Lahir dari Mama, Aku Terluka karena Mama,” lebih sebagai sebuah permenungan bagi para mama. Semoga para mama tidak memadamkan cinta di hati mereka apa pun resiko yang harus mereka terima demi mereka yang lahir dari rahimnya.


"AKU LAHIR DARI MAMA, AKU TERLUKA KARENA MAMA"


Mencoba tersenyum untuk bercerita walaupun tetesan airnya matanya terus berjatuhan perlahan membasahi pertiwi, mengalir dan menembus tanah seakan menghilang membawa resah yang sedang bergolak di hatinya saat itu. Demikianlah ekspresi gadis berusia belasan tahun yang duduk di hadapanku dalam sebuah kesempatan untuk mengaku dosanya. Ya, kadang melanggar sedikit aturan tentang waktu hanya dengan tujuan untuk mendengar kisah mereka yang terbuang dari orang-orang yang dicintainya memang diperlukan apalagi ketika orang percaya kepada kita.

Pengalamannya gadis itu sungguh menyedihkan hanya karena ibunya yang tertarik pria lain memutuskan untuk meninggalkan suami pertamanya yang tergolong miskin dan berpenghasilan rendah. Di antara kebingungan hidup karena usianya yang masih belia, ia berjuang untuk tetap tegar menatap hidupnya yang terbentang luas ke depan.

Setelah hidup bersama bapa tirinya, rupanya sang ibu sendiri tidak menghendaki putri dari suami pertamanya tinggal bersama keluarga barunya. Hanya karena terlambat menyiapkan makanan untuk para tiriku, keluarlah dari mulut mama kata-kata ini; “Pergilah dari sini. Carilah dan tinggallah bersama papamu. Mulai malam ini engkau tidak mempunyai tempat di rumah ini, di dalam hatiku.” Father, sambaran petir di malam hari tak menakutkan hati dan jiwa bila dibandingkan kata-kata mama malam itu. Aku mencoba untuk tenang menerimanya tapi rupanya mama serius dengan kata-katanya ketika ia menolak aku keluar pintu rumah sambil menutup membanting pintu dengan keras. Tangisan dan teriakan minta ampun tak mampu menyentuh hati mama untuk membuka kembali pintu rumah dan hatinya untuk putrinya. Dengan menahan getir di hati, akhirnya malam itu dengan berjalan kaki menembus ruang dan waktu, aku berjalan mengeliling kota Manila hanya untuk mencari papa yang telah bertahun-tahun kutinggalkan di gubuk kami yang sederhana itu. Aku sempat ragu apakah papa masih tinggal di sana, tapi aku mengikuti kata hatiku bahwa papa sedang menanti kembalinya putri tunggalnya setiap saat.

Mengetuk pintu rumah sang papa di tengah malam pasti sangat mengganggu dan mencemaskan hati para penghuni di kota besar seperti Manila, tapi aku terpaksa melakukannya karena aku tahu hati sang papa akan membuka pintu rumahnya untukku. Seseorang kemudian membuka pintu rumah itu dan ketika memastikan bahwa itu adalah aku, putrinya yang telah meninggalkannya selama bertahun-tahun, akhirnya papa berlari ke arahku, memeluk dan menggendongku bagaikan sang putri di istana mewah sambil memasuki gubuknya. Aku pun menjerit tak hentinya ketika merasakan pelukan sang papa yang kekar menghangatkan tubuhku yang mungil dalam keadaan basah itu. Tanpa bertanya mengapa dan bagaimana papa kemudian mencarikan supermie di kotak kecil di sampingnya dan memasak lalu mempersilakan aku untuk menyantapnya sementara air mata penyesalan tak tertahankan jatuh membasahi tanah di rumah cinta sang papa.

Malam ini aku hanya mau mengingatkan kembali Anda akan pepatah lama; “Surga ada di telapak kaki ibu.” Ini adalah sebuah kebenaran, tapi kisah di atas juga mau mengatakan bahwa “kadang neraka juga ada di tangan, mulut, kata, perbuatan, pikiran dan hati ibu.” Aku percaya bahwa tidak semua ibu berlaku seperti ibu dalam kisah gadis kecil ini, tapi baiklah jika setelah membaca kisah kecil ini para ibu pun mengevaluasi kembali sikap dan tindakan mereka terhadap anak-anak yang telah lahir dan dilahirkan dari rahimnya sendiri. Jangan pernah membuat hati anak-anakmu resah dan bahkan menolakmu sebagai mama mereka karena emosi negatifnya yang tak mampu Anda kontrol. Darimu mama kami belajar tentang cinta, hidup dalam cinta maka biarlah kami merasakan dan mengalami cinta yang sama darimu sampai akhir hidupmu.

Selamat bermalam minggu

Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabat,

***Duc in Altum***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Categories

Follow Us